Daftar Pustaka ~ Dalam penulisan suatu karya ilmiah, kita dituntut untuk menyajikan informasi dengan disertai sumber yang benar. Tuntutan menyajikan informasi dengan sumber yang benar itu lah yang membuat penulisan daftar pustaka dibutuhkan bahkan diwajibkan. Apa sih daftar pustaka itu? Bagaimana cara penulisannya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, pada kesempatan kali ini Zona Siswa akan mencoba menghadirkan penjelasan mengenai pengertian daftar pustaka dan cara penulisan daftar pustaka disertai dengan beberapa contoh. Semoga bermanfaat. Check this out!!!


A. Pengertian Daftar Pustaka

Daftar pustaka yaitu daftar yang berisi tentang semua buku atau tulisan yang dijadikan acuan atau landasan dalam penelitian. Ada beberapa manfaat pencantuman daftar pustaka atau catatan kaki, baik bagi penulis, pembaca atau penyumbang data/sumber yang diambil, yaitu:

  1. memenuhi etika penulisan;
  2. sebagai ucapan terima kasih penulis kepada penyumbang data;
  3. sebagai pendukung ide seorang penulis karena biasanya sumber yang diambil ditulis oleh pakar yang terkenal;
  4. sebagai petunjuk untuk melacak kebenaran data yang diambil;
  5. sebagai referensi silang, yaitu menunjukkan pada halaman atau bagian mana data itu diambil.


B. Penulisan Daftar Pustaka

Berdasarkan acuan (referensi) yang digunakan, ada beberapa model penulisan daftar pustaka/bibliografi, antara lain sebagai berikut:

1. Buku sebagai Sumber Acuan

Jika buku menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

Nama penulis dalam daftar pustaka dituliskan secara terbalik. Artinya, nama belakang ditulis di awal, baru diikuti nama depannya dengan dipisahkan menggunakan tanda koma (,). Nama ditulis lengkap tanpa menyebutkan gelar. Ketentuan ini berlaku secara internasional. 
Contoh:
  • Masri Singarimbun menjadi Singarimbun, Masri
  • Gorys Keraf menjadi Keraf, Gorys
  • J.S. Badudu menjadi Badudu, J.S.


Jika dalam buku yang diacu itu tercantum nama editor, penulisannya dilakukan dengan menambahkan singkatan (Ed.). 
Contoh:
  • Mahaso, Ode (Ed.). 1997.


Jika pengarang terdiri dari dua atau tiga orang, nama pengarang dituliskan semuanya dengan ketentuan nama orang pertama dibalik sedangkan nama orang kedua dan ketiga tetap. Di antara kedua nama pengarang itu digunakan kata penghubung “dan”. 
Contoh:
  • Sumardjan, Selo dan Marta Susilo.
  • Kusmadi, Ismail. Dini A., dan Eva R.


Jika lebih dari tiga orang, ditulis nama pengarang pertama yang dibalik lalu ditambahkan singkatan “dkk” (dan kawan-kawan) atau et all. 
Contoh:
  • Kartika, Salma dkk.
  • Susan, Alberta et. all.


Jika beberapa buku ditulis oleh seorang pengarang, nama pengarang cukup ditulis sekali pada buku yang disebut pertama. Selanjutnya cukup dibuat garis sepanjang 10 ketukan dan diakhiri dengan tanda titik. Setelah nama penga-rang, cantumkan tahun terbit dengan dibubuhkan tanda titik. Jika tahunnya berbeda, penyusunan daftar pustaka dilakukan dengan urutan berdasarkan yang paling lama ke yang paling baru. 
Contoh:
  • Keraf, Gorys. 1979.
  • _________ . 1982.
  • _________ . 1984.


Jika diterbitkan pada tahun yang sama, penempatan urutannya berdasarkan pola abjad judul buku. Kriteria pembedaannya adalah setelah tahun terbit dibubuhkan huruf, misalnya a, b, c tanpa jarak. 
Contoh:
  • Bakri, Oemar. 1987a.
  • __________ . 1987b.


Jika buku yang dijadikan bahan pustaka itu tidak menyebutkan tahun terbitnya, dalam penyusunan daftar pustaka disebutkan “Tanpa Tahun”. Kedua kata itu diawali dengan huruf kapital. 
Contoh:
  • Johan, Untung. Tanpa Tahun.


Judul buku ditempatkan sesudah tahun terbit dengan dicetak miring atau diberi garis bawah. Judul ditulis dengan huruf kapital pada awal kata yang bukan kata tugas. 
Contoh:
  • Keraf, Gorys. 1979. Lebih Lanjut dengan Microsoft Word 97, atau
  • Keraf, Gorys. 1979. Lebih Lanjut dengan Microsoft Word 97


Laporan penelitian, disertasi, tesis, skripsi, atau artikel yang belum diterbitkan, di dalam daftar pustaka ditulis dalam tanda petik. 
Contoh:
  • Noprisal, Hendra. 1984. “Pembangunan Ekonomi Nasional”.


Unsur-unsur keterangan seperti jilid, edisi, ditempatkan sesudah judul. Keterangan itu ditulis dengan huruf kapital pada awal kata dan diakhiri dengan tanda titik. Jika sumber acuan itu berbahasa asing, unsur-unsur keterangan diindonesiakan, seperti “edition” menjadi edisi, “volume” menjadi jilid. 
Contoh:
  • Mochtar, Isa. 1983. Pengantar Ekonomi. Cetakan Kedua.
  • Rowe, D. dan I. Alexander. 1967. Selling Industrial Product. Edisi Kedua.


Tempat terbit sumber acuan, baik buku maupun terbitan lainnya ditempatkan setelah judul atau keterangan judul (misalnya jilid, edisi, nomor majalah). Sesudah tempat terbit dituliskan nama penerbit dengan dipisahkan tanda titik dua, kemudian diikuti dengan tanda titik. Jika lembaga penerbit dijadikan nama pengarang (ditempatkan pada lajur pertama), maka tidak perlu disebutkan nama penerbit lagi.

Ingat, Daftar Pustaka tidak diberi penomoran. Pengurutannya berdasarkan alfabetis nama pengarang. Berikut adalah contoh daftar pustaka (bibiliografi):

Ananta Toer, Pramoedya. 2001. Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Biro Pusat Statistik. 1963. Statistical Pocketbook of Indonesia. Jakarta.
Koentjaraningrat (Ed.). 1977. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
Marsudi, Demas. dkk. 2005. Bahasa dan Sastra Indonesia. Surakarta: CV HaKa MJ.

2. Majalah sebagai Acuan

Jika majalah menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan unsur-unsur beserta urutannya yang perlu disebutkan dalam daftar pustaka sebagai berikut:

  • nama pengarang,
  • tahun terbit,
  • judul artikel,
  • judul majalah,
  • bulan terbit (kalau ada),
  • tahun terbitan yang keberapa (kalau ada),
  • tempat terbit.


Contoh:
Nasution, Anwar. 1975. “Sistem Moneter Internasional”. Dalam Prisma, Desember, IV. Jakarta.
Paranggi, Umbu Landu. 2006. “Puisi: Bagian Terpenting dari Darah Hidupku” dalam Horison Majalah Sastra. Jakarta: PT Metro Pos.

3. Surat Kabar sebagai Acuan

Jika surat kabar menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan unsur-unsur beserta urutannya yang perlu disebutkan dalam daftar pustaka sebagai berikut:

  • nama pengarang,
  • tahun terbit,
  • judul artikel,
  • judul surat kabar,
  • tanggal terbit, dan
  • tempat terbit.


Contoh:
Tabah, Anton. 1984. “Polwan semakin efektif dalam Penegakan Hukum”. Dalam Sinar Harapan, 1 September 1984. Jakarta.

4. Antologi sebagai Sumber Acuan

Jika antologi menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan unsur-unsur beserta urutannya yang perlu disebutkan dalam daftar pustaka sebagai berikut:

  • nama pengarang,
  • tahun terbit karangan,
  • judul karangan,
  • nama penghimpun (Ed.),
  • tahun terbit antologi,
  • judul antologi,
  • tempat terbit, dan
  • nama penerbit.


Contoh:
Kartodirjo, Sartono. 1977. “Metode Penggunaan Dokumen”. Dalam Koentjaraningrat (Ed.). 1980. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.

Selain tata cara penulisan daftar pustaka di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan penulisan daftar pustaka, antara lain sebagai berikut:

  1. Daftar pustakan diletakan pada halaman tersendiri setelah bab kesimpulan dalam karangan ilmiah.
  2. Judul "Daftar Pustaka" ditulis di tengah-tengah halaman dengan huruf awal menggunakan huruf kapital.
  3. Penulisan daftar pustaka disusun secara alfabetis menurut abjad nama pengarang atau lembaga yang menerbitkan, dan tidak diberi nomor urut.
  4. Setiap sumber diketik dengan jarak satu sepasi. Baris pertama diletakkan di tepi margin kiri dan baris berikutnya menggunakan indensi empat ketukan.
  5. Jarak antarsumber dua spasi.
  6. Setiap unsur pustaka diikuti tanda titik, kecuali unsur nama yang terdiri atas dua unsur atau lebih dpisahkan dengan tanda koma (,). Adapun setelah penulisan nama kota diberi tanda titik dua (:).


Tips baik yang dapat Anda lakukan dalam mencatumkan buku daftar pustaka yaitu:

  1. buku yang benar-benar memuat materi yang kita acu. Jadi buku itu bukan sekadar untuk gagah-gagahan,
  2. buku yang masih muda. Hal ini dimaksudkan agar konteks yang diacu dalam buku tersebut sesuai dengan konsep pada zamannya sebab pada jangka waktu tertentu, teori suatu ilmu kemungkinan berubah,
  3. buku yang ditulis oleh seorang ahli yang kompeten dalam bidangnya.


Terima kasih sudah berkenan berkunjung dan membaca artikel Bahasa Indonesia di atas tentang Daftar Pustaka. Semoga dari apa yang telah dijelaskan di atas, teman-teman sekalian dapat semakin mengerti tentang apa itu daftar pustaka. Tidak lupa, jika ada suatu kesalahan baik berupa penulisan maupun isi dari artikel di atas, mohon kiranya kritik dan saran yang membangun untuk kemajuan bersama. Share/bagikan ke teman-teman lainnya juga ya. ^^Maju Terus Pendidikan Indonesia^^

2 komentar:

  1. Mengapa daftar pustaka harus dibentuk sedemikian rupa misalnya harus di tulis miring atau harus berdasarkan abjad

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terma kasih sebelumnya sudah berkenan berkunjung dan bertanya. Penulisan daftar pustaka ditulis seperti itu ditujukan untuk mempermudah pembaca menemukan sumber-sumber yang kita gunakan dalam menulis. Penulisan daftar pustaka sudah di atur oleh tata cara penulisan internasional yang mengacu pada APA (American Psychological Association). :)

      Hapus