Bentuk-bentuk Interaksi Sosial ~ Perubahan ataupun perkembangan dalam suatu interaksi sosial ialah basic social process atau proses sosial dasar dalam masyarakat. Ada beberapa proses sosial dasar yang merupakan bentuk interaksi sosial. Menurut Soerjono Soekanto, proses-proses sosial dasar tersebut ialah adanya kerja sama, persaingan, konflik, akomodasi, serta asimilasi. Nah, pada kesempatan kali ini Zona Siswa akan mencoba menghadirkan penjelasan mengenai bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut secara lengkap untuk para pembaca sekalian. Semoga bermanfaat. Check this out!!!


Interaksi Sosial, Bentuk-bentuk Interaksi Sosial, 5 Bentuk Interaksi Sosial, Apa bentuk-bentuk Interaksi Sosial, Kerja Sama, Persaingan, Konflik, Akomodasi, Asimilasi.
Bentuk Bentuk Interaksi Sosial | www.zonasiswa.com

A. Kerja Sama

Bentuk interaksi sosial yang pertama adalah kerja sama. Kerja sama bisa diartikan sebagai bekerja bersama, menuju tujuan bersama. Jika terdapat dua orang atau lebih bekerja atau bertindak bersama untuk mengejar tujuan bersama maka sudah terbentuk kooperasi. Terkait pelaksanaannya, ada empat bentuk kerja sama, yaitu diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Bergaining atau tawar-menawar, adalah kegiatan perjanjian tentang pertukaran barang dan jasa antara dua orang/organisasi atau lebih.
  2. Cooptation atau kooptasi, merupakan proses penerimaan. Unsur-unsur baru oleh pemimpin atau organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan dalam organisasi.
  3. Condution atau kondisi, adalah gabungan antara dua organisasi atau lebih yang memiliki tujuan yang sama. Conduction pada awalnya dapat menimbulkan keadaan yang tidak stabil, dikarenakan perbedaan struktur. Namun, tujuan utamanya untuk mencapai tujuan bersama, sehingga terbentuklah kerja sama.
  4. Joint-Venture ataua usaha patungan, merupakan kerja sama dalam pengusaha proyek-proyek tertentu dengan sistem patungan.

B. Persaingan

Selain kerja sama, persaingan juga termasuk kedalam bentuk-bentuk interaksi. Persaingan adalah suatu proses sosial di mana seorang atau sekelompok manusia bersaing dalam mencari sesuatu melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa menjadi pusat perhatian dari publik dengan cara mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.

C. Konflik

Pertikaian ialah suatu proses sosial di mana orang seorang atau kelompok manusia, berusaha memenuhi tujuan dengan jalan memandang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan.

Pertentangan atau konflik dapat terjadi sebagai akibat dari adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar sehingga menimbulkan jurang pemisah yang mengganggu proses interaksi sosial. Pada umumnya pertentangan atau konflik disebabkan oleh beberapa hal, antara lain adalah: 

  1. Adanya perbedaan pendapat mengenai suatu hal yang bersifat mendasar. 
  2. Adanya benturan kepentingan mengenai suatu objek yang sama. 
  3. Adanya perbedaan sistem nilai dan sistem norma yang dianut.

D. Akomodasi

Bentuk interaksi sosial yang keempat adalah akomodoasi. Akomodasi atau yang disebut dengan kooperasi antagonistic dapat diartikan sebagai proses interaksi sosial yang menghasilkan interaksi sosial, atau sebagai suatu jalan keluar untuk mengatasi persaingan dan konflik yang ada. Akomodasi adalah suatu proses mengembangkan persetujuan kerja sementara di antara individu atau grup-grup yang sedang berada atau dalam keadaan konflik.

Menurut Kimball Young yang dikutip oleh Soerjono Soekanto (1987), kata ‘akomodasi’ mempunyai dua definisi. Pertama, akomodasi menunjuk pada suatu keadaan. Artinya, suatu kenyataan adanya keseimbangan dalam berinteraksi yang dilandasi dengan nilai dan norma yang ada. Kedua, akomodasi sebagai proses. Sebagai proses, akomodasi mengarah pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan dalam rangka mencapai keseimbangan.

Dalam kehidupan sehari-hari akomodasi dapat pula diartikan sebagai suatu proses kesepakatan antara kedua belah pihak yang tengah bersengketa yang bersifat darurat (sementara) dengan tujuan mengurangi ketegangan. Berdasarkan tujuan itulah, proses akomodasi, dibedakan menjadi beberapa bentuk antara lain coersion, kompromi, conciliation, arbitrasi, toleransi, konversi, truce, displacement, dan stalemate. Berikut adalah pengertian dari bentuk-bentuk akomodasi.

  1. Coercion adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh suatu paksaan, di mana salah satu pihak berada dalam keadaan lemah sekali dibandingkan dengan pihak lawan.
  2. Kompromi merujuk pada keadaan dimana setiap pihak setuju untuk membuat konsesi yang memungkinkan mereka memperoleh persetujuan. Hal ini dapat berlanjut sampai semua pihak puas.
  3. Conciliation merupakan suatu usaha untuk memperhatikan keinginankeinginan pihak-pihak yang berselisih untuk memperoleh suatu persetujuan.
  4. Arbitrasi merujuk pada suatu keadaan dimana perselisihan dan konflik antara dua pihak yang sulit diatasi dengan kompromi, sering diatasi dengan arbitrasi. Di sini pihak ketiga, baik yang dipilih dan ditentukan oleh kedua belah pihak, ataupun badan yang lebih tinggi dari kedua belah pihak itu diminta bantuannya.
  5. Toleransi, dalam toleransi manusia menerima hak dari setiap orang atau pihak lain untuk berbeda pendapat. Di sini dibutuhkan saling pengertian. Bentuk akomodasi seperti ini kadang-kadang baru berhasil dengan baik setelah kompromi dan konvensi gagal.
  6. Konversi merujuk pada keadaan dimana satu dari pihak-pihak yang terlibat konflik menerima aspek-aspek tertentu dari pandangan-pandangan pihak yang lain. Konversi ini sering dihubungkan dengan kepercayaan agamawi.
  7. Truce adalah suatu persetujuan untuk menghentikan interaksi yang bersifat konflik atau persaingan untuk suatu periode waktu yang ditentukan.
  8. Displacement adalah cara mengakhiri konflik, dengan mengalihkan perhatian pada objek bersama.
  9. Stalemate merupakan suatu akomodasi di mana pihak-pihak yang bertentangan dikarenakan mempunyai kekuatan yang seimbang, berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangan.

E. Asimilasi

Bentuk interaksi sosial yang terakhir adalah asimilasi. Asimilasi sebagai suatu proses difusi budaya melalui individuindividu dan grup-grup secara budaya menjadi sama. Proses ini terjadi jika dua kebudayaan yang berbeda bertemu dan kebudayaan yang dominan berasimilasi dengan kebudayaan yang lain.

Proses asimilasi ditandai dengan pengembangan sikap-sikap yang sama, walaupun kadang-kadang bersifat emosional, bertujuan mencapai kesatuan atau paling sedikit suatu integrasi dalam organisasi, pikiran, dan tindakan.

Menurut Prof. Koentjaraningrat terdapat beberapa syarat terjadinya asimilasi. Syarat-syarat tersebut antara lain:

  1. Terdapatnya kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaan.
  2. Terdapatnya interaksi yang langsung dan intensif untuk waktu yang lama dalam kelompok tersebut.
  3. Sebagai akibatnya maka kebudayaan dari masing-masing kelompok berubah dan saling menyesuaikan.

Demikianlah penjelasan mengenai Bentuk-bentuk Interaksi Sosial yang meliputi kerjasama, persaingan, konflik, akomodasi, dan asimilasi. Semoga bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian. Bagi sobat yang menemukan kesalahan dari artikel tersebut di atas, baik berupa penulisan maupun pembahasan, mohon kiranya kritik dan saran yang membangun untuk kemajuan bersama. Terima kasih..

BACA JUGA:
1. Pengertian dan Ciri-ciri Interaksi Sosial
2. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial
3. Syarat-syarat Interaksi Sosial

Bagi teman-teman yang mempunyai suatu tulisan unik tentang apa saja, ataupun puisi, cerpen, cergam, pantun, bahkan profil sekolah/guru favorit; dan ingin dibagikan ke teman-teman lainnya melalui mading zona siswa, silahkan saja kirim karya kalian di Mading Zona Siswa. Karya kalian nantinya akan ditampilkan di mading kami dan akan dibaca oleh ribuan pengunjung lainnya setiap hari. Ayoo kirim karya kalian di mading Zona Siswa. 

0 komentar:

Posting Komentar